Tasikmalaya Tembus Pasar Amerika Dengan Beras Organik

Kali ini bagian Tasikmalaya yang mendapat prestasi dalam bidang pertanian. Tepatnya tgl 20/08/09. Tasikmalaya berhasil mengekspor beras organik sejumlah 18 Ton dengan tujuan Amerika. Bagi Indonesia ekspor kali ini merupakan tonggak sejarah karena tidak hanya sekedar beras organik tetapi beras organik “bersertifikat” bahkan memiliki dua seritifikat yaitu sertifikat sebagai produk organik dan sertifikat fair trade yaitu pelaku eksportir telah melaksanakan perdagangan yang adil artinya memberikan keuntungan yang layak bagi seluruh mata rantai yang terlibat dalam produksi beras organik khususnya petani.

Sertifikat fair trade sendiri dikeluarkan oleh Institute of Marketecology Organization yang berkedudukan di Swiss dan merupakan lembaga internasional yang terakreditasi dan diakui secara internasional. Menteri Pertanian Anton Apriyantono dalam sambutannya pada peresmian ekspor perdana beras organic tasikmalaya di Pendopo, Alun-alun Kantor Bupati Tasikmalaya (20/08/09)menyampaikan keberhasilan ini dapat dijadikan model  di daerah lainnya.

Negara tujuan ekspor selain Amerika untuk produk beras organik asal tasikmalaya adalah Uni Eropa, Malaysia, Singapura dan Hongkong (hn.Humas PPHP).

Semoga hal ini menjadi titik awal dalam bidang pertanian kita, yang selama ini kita hanya import beras dari luar negri.

Leave a comment »

Teknik Pembuatan Kompos

Dalam kehidupan kita sehari terjadi suatu interaksi antara manusia dengan makluk hidup lain, dalam hal ini lingkungan. Lingkungan yang kita tempati saat ini sudah mencapai tingkat kerusakan yang sangat besar di tiap belahan bumi. Salah satu cara untuk mengurangi tingkat pencemaran yaitu dengan pemanfaatan sisa dari zat pembuangan, sampah, dan pemanfaatan lingkungan dengan pengelolaan yang maksimal.

Pengelolaan sampah yang sering dilakukan yaitu pembuatan pupuk kompos. Agar kompos yang jadi berkualitas baik, kita perlu memperhatikan jumlah dan dosis tepat masing-masing komponen penyusun komposisi. Bahan dan alat yang harus disediakan dalam pembuatan kompos sebanyak 1m3 adalah

  • Bahan-bahan:

Jerami, dedaunan, rerumputan, sisa tanaman, abu, sampah dapur atau sampah kota yang telah dibersihkan dari bahan-bahan anorganik seperti plastik, kaleng, dan batu.

  • Tempat:

Sediakan tempat yang teduh dan beratap juga berlantai kering dan keras.

  • Cara Pembuatan:
  • Pilih lokasi di permukaan tanah (bukan di dalam lubang di tanah), misalnya di tepi pematang sawah dan kebun.
  • Susun media kompos (yakni hijauan atau jerami) setebal 25 cm sebagai lapisan pertama. Taburkan 1/4 bagian campuran bahan baku ke atas tumpukan jerami tersebut. Kemudian siram tumpukan jerami dengan air secukupnya.
  • Untuk lapisan kedua, ketiga, dan keempat, susun lagi jerami setebal 25 cm kemudian  taburkan lagi bahan baku sebanyak 1/4 bagian ke atas tumpukan jerami dan siramkan air ke tumpukan tersebut. Lakukan sehingga terbentuk 4 lapisan kompos.
  • Lalu tutup dengan plastik dan beri penyangga dari bambu di sekelilingnya.
  • Aduk setiap 7 hari sekali. Dalam tiga minggu atau setelah 3 kali pengadukan biasanya kompos sudah masak. Kompos yang masak ditandai oleh warnanya yang coklat kehitam-hitaman, atau hitam bila terlalu panas.
  • Kandungan unsur hara yang ada dalam kompos sangat tergantung pada komposisi bahan asalnya, yakni Nitrogen (N) 0,19%- 0,5%, Fosfat (P2O5) 0,08% – 0,27%, dan Kalium (K2O) 0,45% – 1,20%

Nah untuk melestarikan lingkunga gak susah kan. Mungkin awal-awalnya saja susah, tapi untuk kedepannya mudah kok. Siapa tau berawal dari hal yang kecil dengan memanfaatkan sampah dibuat pupuk kompos bisa menjadi lahan penghasilan dengan memproduksi pupuk kompos secara besar-besaran..

Leave a comment »

Zeolit, Menghemat Penggunaan Pupuk Urea

SALAH satu persoalan klasik yang sering dihadapi petani antara lain tingginya harga pupuk terutama pada saat musim tanam dan borosnya penggunaan pupuk. Bayangkan saja, dalam satu kali musim tanam, petani harus melakukan pemupukan tiga kali sejak tanaman padi berumur 14 hari hingga bulir padi berisi.

Padahal, pada saat musim tanam seperti itu, harga pupuk naik di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp 1.050 per kilogram. Di beberapa tempat harga pupuk melonjak menjadi Rp 1.250 per kilogram, bahkan ada yang sampai Rp 1.400 per kilogram.

Persoalan harga tidak terlalu menjadi masalah jika petani hanya melakukan pemupukan sekali selama musim tanam. Parahnya, dengan formula pupuk urea yang beredar saat ini, petani harus melakukan pemupukan tiga kali selama musim tanam.

“Borosnya penggunaan pupuk urea ini karena sekitar 70-80 persen pupuk urea yang ditebar petani hilang terbawa air. Hanya sekitar 20-30 persen pupuk urea yang meresap ke dalam tanaman,” kata Samuel Pati Senda, Direktur Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Industri Proses, pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Tingginya pupuk yang terbuang percuma ini menyebabkan konsumsi pupuk urea oleh petani sangat besar, di atas 1,5 kuintal per hektar. Selain itu, petani harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk upah buruh penebar pupuk. Tidak heran jika kemudian biaya pengolahan sawah menjadi sangat mahal untuk setiap musim tanam.

Dari sisi lingkungan, banyaknya pupuk urea yang hanyut terbawa air dan terbuang percuma ini mencemari sungai serta waduk. Melimpahnya pupuk urea di waduk menyebabkan waduk ditumbuhi berbagai macam gulma yang mengganggu tata air.

“Bahkan kematian ikan-ikan di sejumlah waduk, diduga kuat akibat banyaknya urea dari sawah yang larut dan terbawa air ke waduk.

UNTUK mengatasi kelemahan pupuk urea pril, sebenarnya sekitar tahun 1994 dipopulerkan penggunaan pupuk urea tablet di kalangan petani. Namun pola penggunaan urea tablet yang harus dibenamkan ke sawah dianggap merepotkan sehingga tidak disukai petani.

Kini Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) setelah melakukan sejumlah penelitian berhasil menemukan pupuk urea formula baru yang lebih efisien. Pupuk urea tersebut dicampur zeolit yang berfungsi sebagai pengikat pupuk, sehingga pupuk tidak mudah larut dalam air, bahkan pelepasan unsur nutrien bisa dikendalikan sesuai dengan umur tanaman.

Leave a comment »